Sabtu lalu saya menghadiri perhelatan adat di gedung serba guna HKBP Jatiwaringin. Ketika kami sampai di sana, mobil2 sudah berjejer di bahu jalan, kiri dan kanan. Parkiran penuh. Di depan gedung itu ada bengkel yg aktivitasnya sedang tidak ada. Penjaganya duduk santai di dalam. Lalu saya panggil, minta parkir di dalam bengkel. Bulan lalu saya memang parkir di sana. Bisa om, tapi Rp10.000 ya. Lalu ku oke-kan. Relatif mahal dibanding parkir di bahu jalan yg ongkos parkirnya mgkn sesuka pemilik mobil. Saya tak protes mahalnya parkir di bengkel itu sebab itu hak dia, propertinya, mau seratus ribu atau sejuta, itu hak dia. Kita mau apa tidak?.

Februari lalu, saya mandi di air rangat Sipoholon-Tarutung. Tiket masuk Rp 5.000 bang, kata penjaganya. Iya, OK kataku. Saya juga ga komplai karena fasilitas mandi air hangat itu mereka bikin sendiri, kolam rendam, pancuran, kamar bilas, tempat duduk, etc.

Beberapa tahun lalu saya berkunjung ke kepulauan seribu saat musim lebaran. Di salah satu pantai ada anak muda minta tiket masuk, Rp5. 000. Saya lihat area itu mereka tutupi dengan seutas rapiah. Semua pengunjung haru masuk dr pintu yg mereka buat. Saya panggil tour guide kami (orang kep 1000juga), komplain dan minta diurus. Saya tak mau bayar, dan tak mau ribut, kataku. Kulihat mereka berdiskusi, lalu rombongan kami masuk dengan santai. Saya komplain karena itu pantai milik umum, bukan properti pribadi.

Sekitar 2010 saya berkunjung ke Tomok. Kami parkir di bahu jalan, agak jauh. Tak ada tukang parkir. Tetapi begitu kami keluar dari sana seseorang minta uang parkir lalu saya sodorkan 2.000. Wajahnya memerah, Rp 5. 000 bang, katanya. Baik, mana bukti retribusinya kataku. Kami pun berlalu tanpa peduli sumpah serapahnya.

Setiap liburan pasti ada saja berita viral tentang fasilitas tempat liburan. Mgg lalu ada yg memviralkan harga telur bebek 6.000 rupiah di salah satu tempat wisata air hangat-aek rangat di pulau Samosir, sampai2 Pemda turun tangan, itulah buah2 tehnologi masa kini. Logika ekonominya harga sebegitu tidaklah mahal. Si pembuat berita mungkin tak pernah belanja telur bebek.Dibutuhkan filter dari kita utk menyaring mana berita yg layak diviralkan mana yg tidak. Hati2, kita bisa disomasi orang lain karena ulah iseng.

By admin