Tulang – 1

Byadmin

Jun 9, 2021

Lelaki itu terbaring lemah. Matanya nanar memandang langit-langit kamar bercat putih itu. Sesekali ia menghela nafasnya perlahan namun berat. Ia terpihat menahan tumpahan air matanya. “Na ro do ho bere?–kamu datang bere?” tanyanya lirih hampir tak terdengar.

“Olo Tulang, hubege sian inong marsahit tulang, tor jalo hulojong tuson–aku mendengar tulang sedang sakit, segera saya kesini” ujarku seraya menggenggam lembut tangan tua yg mulai keriput itu, dingin. Di sisinya, nantulang segera bangkit dan memelukku, ada uraian airmata hingga membasahi kemejaku. Aku memeluk nantulang dengan erat. Selain inong, peremmpuan yg menjadi sosok ibu di keluarga kami adalah nantulang. Bila among marah dan hendak memukul adik-adik saya, mereka segera berlari ke rumah tulang. “Nantulang, naeng dipamate bapa hami”, biasanya among langsung surut amarahnya. Hanya menyisakan ancaman lewat kedipan matanya.

Dia lelaki tua yg terbaring, dulu seorang yg kekar dan bersahaja, yg memeiliki aura dan wibawa kepemimpinan. Keras dan displin tetapi sangat bersahabat. Tak salah bila dua kali periode memimpin desa kami Desa Rura Nauli. Aku berusaha menunjukkan wajah sebersemi mungkin pun dalam hatiku, aku ingin menangis melihat penderitaanya. Dokter Simatupang bilang gejala stroke akan segera menyerangnya bila terlalu sering darah tingginya kumat.

“Denggan do usaham, nuaeng?–apa bisnismu baik-baik saja?” Sapanya seraya berusaha untuk duduk. Aku meraih gagang tempat tdr itu dan memutarnya perlahan, sehingga ia duduk tegak. “Cukup, Tulang?” tanyaku. Ia menggangguk lemah.

“Timbo dope tensi ni tulangmu, dang boi dope mulak–tensi darah tulangmu masih tinggi, jadi belum bisa pulang–” timpal nantulangBunga menjelaskan tanpa saya tanya.

“Sebentar lagi inong datang” kataku mengindahkan pertanyaan tulang.

“Nantoari dope eda dohot amangbao sian on-baru kemarin eda dan amangbao dari sini” jawab nantulang heran.

“Masihol katanya inong ke ibotonya yg sangat dikasihi ini” kataku seraya melempar pandang ke Tulang.

“Sai mambahen menghel do ho bere” jawab nantulang.

“Hatop ma ho malum tulang, ai huboan do siinumon na tabo i–cepatlah sembuh Tulang, saya bawa minuman kesukaan Tulang” kataku. Memang saya sengaja membeli sebotol wayne merah kesukaan Tulang. Saya sering menitipkan itu ke rekan sekampung bila bertemu di Jakarta atau Bandung.

“Unang sai pamanja tulang mi–jangan manjakan tulangmu” kata nantulang.

Tulang hanya tertawa. Walau seolah terpaksa.

—-

Pos!

Suara khas Pak Pos berteriak sembari memukul pagar besi itu dengan kunci motornya. Beberapa penghuni pos mendongakkan wajah menatap pintu par rumah kos yg disain sedemikian. Rumah ini dulu adalah rumah dinas tentara belanda, oleh pemiliknya diubah menjadi tempat kos. “Bang Togar, wesel untuk mu” teriak Rizal, tergesa dia memilah beberapa pucuk surat dan sehelai kertas berwarna coklat itu diserahkan kepadaku.Wesel pos!.

Sesuatu yg mustahil. Bukankah among sudah menegaskan tidak ada lagi uang utk dikirimkan?, aku penasaran, jantungku berdegup. Mataku tdk tertuju ke nilai nominalnya tetapi kepada pengirimnya. Jahotman Marbun. Tulang amaniBunga. “Kau harus lulus bere, jgn pikirkan soal uang” itu pesannya.

Jahotman Marbun, tulangku, anak bapatua inong, tiga generasi kebelakang, seorang pekerja keras dan berpikiran maju, masih tergolong belia kala itu, beda usia 15tahun denganku. Saya ingat persis sifatnya karena masa remajanya saya sudah SD, kala itu. Ah, tulang. Engkau bagaikan oase di tengah gurun pasir luas yg kerontang, bagaikan curahan hujan di kemarau panjang. Tak terasa mataku berkaca. Kembali teringat ketika dia menyelipkan lembaran duapuluhribuan ke kantongku kala berangkat ke Bandung beberapa tahun silam. Buat makanmu di jalan, katanya seraya memelukku. Holan ho dope bere na kuliah sian hutantaon, gabe sitiruon ni angka tinodohon nang naposo ni hutaon ma ho–baru kamu mahasiswa dari kampung kita, semoga kamu bs menjadi panutan generasi muda di kampung kita ini, bisiknya.

——-

Asi roha mida tulang mi, nantulang mi– kasihan melihat nantulang dan tulangmu- kata inong ketika bersendagurau sore itu di batu besar binanga itu sembari membantunya memeras kain2 cuciannya. Inong tetap asyik dengan sekeranjang besar kain cuciannya, sesekali menghela wajah keriputnya. Mesin cuci yg saya kirimkan bulam lalu masih teronggok di dapur, masih dalam kardusnya. Haduan ma i pinakke molo dang boi be iba meret tu binanga an– nantilah saya pakai jika sudah tak mampu lagi mencuci di sungai, kilahnya menjawab pertanyaanku perihal mesin cuci yg tidak terpakai itu.

Kepulanganku sebenarnya tidak direncanakan, kebetulan ada beberapa masalah pembebasan lahan di beberapa titik tower yg akan kami bangun. Sudah sepuluh tahun saya menggeluti bisnis penyewaan dan pembangungan tower BTS. Pensiun, tepatnya resign dari perusahaan telekomunikasi dan membangun bisnis sendiri. Kenikmatan berbisnis, hingga lupa menikah. Panglatu. Istilah orang2 di lapo Parsitongaan sana setiap saya singgah. “Naro do panglima besar–panglima besar sdh datang?” Ledek amaniUttal, sebayaku yg sebentar lagi menyekolahkan anak sulungnya ke ITB menyambutku. Maksudnya panglima lajang tua. Walau tak terlihat, wajahku di 43 tahun ini masih terlihat muda. “Sudah kau siapkan tempat tinggal anak kita?”, katanya nyerocos. Bulan lalu, lewat telepon saya sdh menyanggupi permintaanya. Saya bangga dengan amaniUttal. Uttal lulus di ITB. Tahun demi tahun kampung ini menghasilkan beberapa sarjana.

Kembali ke inong.

“Inong, aku ingin menolong tulang, asal inong setuju”.

“Saya pasti setuju, amang. Tulangmu itu sangat baik kepada kita”.

“Saya khawatir inong tidak setuju”.

“Pasti setuju”.

“Sitoho do inong-betulkah, inong?”.

“Boasa hira na marhutissa ho mangurupi tulang mi?– mengapa kamu bertekateki membantu tulangmu?”

Aku terdiam, memandang lekat inong.

“Aku ingin menikahi Bunga”.

Inong menghentikan cuci. Ada raut terkejut mendengar perkataanku. Kembali ia meraih secarik kain lalu membilasnya.

“Kamu sudah pikirkan resikonya?”.

“Satu malam ini inong. Jujur, saya tidak ingin melihat tulang itu menderita. Segala kebaikan yg ditanamkan kepada keluarga kita tidak bisa dibayar dengan cara apapun,” kataku.

“Iya. Tdk ada yg bisa menandingi kebaikan keluarga tulangmu. Mulai dari kami berumahtangga, ompungmu, amongnya tulangmu yg memberikan sawah utk kami, membangun rumah dan semua yg ada sekarang ini semua atas kebaikan keluarga tulangmu itu. Inong tahu, beberapa kali tulangmu mengirim uang untukmu ketika kau sekolah di Bandung, inong tahu semua”. Aku terdiam, tak menyangka inong tahu semua yang tulang lakukan untukku.

“Jadi inong setuju kalau Bunga jadi parumaenmu?”.

“Saguru di ho do amang, hodo annon na manghilala jala mandalani rumatanggam i– tergantung kamu nak, kamu yg akan menjalaninya nanti”.

Kami saling berdiam. Apakah inong setuju dan iklas?, inong tahu betul siapa Bunga. Inong bukanlah orang lain di keluarga tulang. Setiap kekuarga tulang punya hajatan maka among dan inonglah sebagai boru menjadi parhobas.

=== cerbung ini akan berlanjut==

By admin