Integritas

Byadmin

Nov 15, 2020

Berkali kutuliskan apa itu integritas. Dalam penjelasan sederhana adalah perbuatan baik yg didorong dan dilakukan oleh hati nurani tanpa dipengaruhi oleh faktor internal. Mangulahon na tikkos nang pe soadong marnida nang manghatindakkon, saksi.

Suatu ketika dua orang sahabat melamar ke salah satu perusahaan alat-alat pertanian yg terkenal di kota itu. Setelah serangkaian test internal keduanya memiliki nilai yg hampir sama. Test akademis, test psikologi dan pengetahuan umum, keduanya sama-sama unggul. Lalu suatu hari yg sudah ditetapkan keduanya akan berhadapan langsung dengan Presiden Direktur dalam sesi interview. Hasilnya pun sama. Tidak ada satupun di antara keduanya yg layak dicoret. Akhirnya, sang Presdir yang bijak itu memberikan keduanya masing-masing sebutir biji timun suri. Sang presdir mengatakan bahwa keduanya harus menyemaikan biji timun itu. “Semaikan dalam gelas plastik, setelah 10 hari kedepan, kita bertemu lagi, memutuskan siapa yg paling terbaik di antara yg terbaik untuk diterima menjadi Manager di perusahaan ini” katanya seraya menyalami kedua anak muda itu.

Setelah sepuluh hari, Jauttal terlihat murung. Biji timun suri yg dia semaikan itu tak kunjung tumbuh, bahkan terlisat seperti membusuk dan berjamur. Begitu mendapat telepon dari perusahaan tersebut, ia pun semakin galau. Ada niat dalam hatinya untuk tidak menghadiri sesi interview terakhir itu. Toh, ujian terakhir ku telah gagal, bathinya dalam hati. Setelah bergelut dalam hati ia pun memutuskan utk datang, apapun yg terjadi biarlah saya berterus terang, tekatnya.Ia melihat Jatikkos, sahabatnya membawa sepot kecil tumbuhan mungil, ukuranya kira-kira 5cm berdaun empat, hijau segar. Dengan bangganya ia memamerkan hasil karyanya pada Jauttal.

Sesi interview pun berjalan seperti biasanya, bahkan hingga negosiasi gaji. Menggiurkan. Sebagai seorang pemula gaji yg ditawarkan cukup besar. Ketika Jauttal berhadapan dengan Presiden Direktur tersebut ia pun menyampaikan permohonan maaf jika tugas terkhir yg diberikan gagal dilaksanakan. Sang presdir hanya meresponya dengan senyum yg tulus. Tidak apa-apa, jawabnya singkat.Seminggu berselang, Jauttal dipanggil lagi untuk tanda tangan kontrak kerja. Ia sungguh heran. Setelah bertukar informasi dengan Jatikkos yg ternyata tidak diterima, ia pun semaki heran. Nyata sekali jika ia gagal dan Jatikkos berhasil menyelesaikan serangkaian test. Apapun itu, ia mensyukuri situasi.

Di suatu siang setelah enam bulan berlalu, sang Presdir pun mereview hasil pekerjaan Jauttal, apakah layak dipermanenkan atau tidak. Ternyata sang boss puas akan kinerjanya. Dia menepuk pundak Jauttal dengan lembut, bagus, pertahankan prestasimu, kamu adalah aset perusahaan ini yg sangat berharga. Lalu selembar surat pengangkatan menjadi karyawan tetap dibarengi selembar surat pernyataan kenaikan gaji diterima. Rasa senang dan bahagia tak terkira terlukias di wajah Jauttal. Saat makan siang bersama sang boss, ia menanyakan perihal test terakhir bibit timun itu.

“Pak, sampai detik ini saya masih penasaran, teman saya yg nyata-nyata berhasil, mengapa tidak diterima, sementara saya yg gagal malah diterima” ujarnya.

“Pak Jauttal, ketahuilah, bahwa perusahaan kita sangat mengharapkan kejujuran dan integritas. Dari sekian banyak pelamar, hanya kamu yang memenuhi kriteria itu. Sebelum kalian berdua melamar, sudah selusin lebih kami menyeleksi karyawan, dan ternyata hanya kamu yg memiliki syarat tersebut. Integritas dirimulah yg membuat kami menjatuhkan pilihan menerimamu di perusahaan ini”
“Tapi, Pak”
“Ya, bibit-bibit yang saya berikan itu dipastikan tidak akan tumbuh. Staff saya sudah merendamnya di air panas, lalu merendam lagi dilarutan kimia untuk memastikan itu tidak akan bertumbuh. Jadi, kalau ada seorang pelamar yg datang dengan membuktikan bahwa bibit itu bertumbuh, ia tidak jujur. Dia pasti menukarnya dengan bibit lain. Ia tidaklah seorang yg berintegritas. Adakah seseorang dengan sikap kesatria seperti yg kamu lakukan mengakui kegagalanmu?, dari sekian banyak pelamar, tidak ada. Hanya dirimu. Pertahankan integritasmu” kata sang presdir.

Jauttal hanya bengong, terdiam. Ia baru menyadari bahwa kejujuran dan integritasnyalah yg paling utama. Ilmu bisa dipelajari. Keahlian datang dengan sendirinya bila ditekuni tetapi integritas adalah dasar dari segala perilaku orang dalam berbuat.

Seberapa besar integritas anda?

By admin