“Guru aha ma na so lomo rohani halak batak–guru apa yang tak disukai orang batak” tanya kawan saya lewat fb messanger, lalu ia jawab sendiri, guru dok!. Guru dok itu adalah orang yang egois dalam hal apapun. Bisa juga dikatakan otoriter. Tak ada alasan bagi dia untuk menerima pendapat atau usul orang lain. Sifat guru dok ini sangat tidak disukai orang batak sebab orang batak terkenal dengan kedemokratisannya. Mau bukti?. Dalam tatanan sosial orang batak ada namanya dalihan natolu, tak ada yang selalu monoton menjadi raja, ada saatnya dia harus melayani bahkan jika dia seorang berpangkat, berjabatan dan kaya raya sekalipun.

Kedua, dalam kehidupan beradatistiadat, orang batak diatur dalam parjambaran. Semua orang mendapat jambar sesuai dengan porsi dan kedudukan masing-masing baik jambar juhut maupun jambar hata. Adalah sangat menyakitkan bila seseorang tak diberikan hak mandok hata padahal hanya mengatakan horas jala gabe. Lihatlah orang batak mandok hata/berbicara, kata penutup bukan HORAS, tetapi ‘hatakki, hata tambaan’ yang artinya sila para sanak menambahkan apa yang sudah saya utarakan. Tak ada dominasi disana, semua orang memberikan penghormatan pada orang lain lewat memberikan pendapat.Dalam berdemokrasi pun demikian.

Acap kita lihat pengurus-pengurus punguan marga digilir menjadi parhobas, pengurus organisasi. Diundi berdasar urutan ompu-ompu atau wilayah. Panitia-panitia perhelatan ditentukan berdasarkan ompu-ompu, wilayah-wilayah. Seseorang yang otoriter atau guru dok otomatis akan tersingkir dari semua kegiatan. Metmet pe sihapor dijujung do uluna–kecilpun belalang dia sanggup membawa kepalanya sendiri, entah siapa yang memulai mengungkapkan peribahasa ini, namun yang jelas semiskin-miskinnya orang batak, maka dia akan dengan terhormat menentukan, membela, bertanggungjawab, menunjukkan jatidirinya. Tak ada yang bisa mengatasnamakan dirinya, itulah makna perumpamaan itu dalam arti luas

Demokrasi otoriter, oligarki sangat dipantangkan dalam kehidupan orang batak. Bahkan, dalam lingkup kecil, orangtua akan sangat marah bila seorang anak terlihat egois tanpa memikirkan saudara sekandungnya. Ayah saya sering mengatakan itu ketika saya atau siapapun dari kami lima bersaudara ketika masih remaja dulu mengambil yang bukan jatah atau melebihi porsi masing-masing. “Holan butuham do disarihon ho– kau hanya memikirkan perutmu sendiri” katanya.

Di Sitapongan, tanah leluhur kami, demokrasi ini sangat kental bahkan kaku. Misalnya dalam pemilihan kepala desa, lima ompu keturunan ompung kami Sumindar yang mendiami desa Sitapongan turun temurun akan menggilir jabatan ini dengan kerelaan hati dan tanggung jawab bersama. Keturunan pertama ( sihahaan), demikian seterusnya sampai keturunan ke lima. Bisa dibayangkan jika saat ini yang menjadi kepala desa adalah keturunan ke empat, maka jatah mereka untuk menjadi kepala desa kempali adalah duapuluh tahun mendatang. Mencengangkan bukan?. Pengecualian adalah jika ompu yang mendapat jatah/giliran mengibarkan bendera putih alias menyerah mendudukkan calonnya maka ompu lain yang mendapat giliran selanjutnya akan menerima mandat tersebut. Hingga kini, 2020, kebiasaan atau peraturan itu masih dipertahankan, jangan coba-coba menjadi guru dok lalu patentangan mengambil alih kepemimpinan, semua warga akan melawanmu. Tak heran, di kampung kami tak ada kepala desa dua periode.

Guru dok bisa menghancurkan kenyamanan bermasyarakat sebab ada saja orang yang pro kontra entah karena pengaruh uang, kekerabatan dan lain-lain. Permulaan kehanduran demokrasi dimulai dari munculnya sang setan guru dok. Bahkan di gereja-gereja pun, roh atau spirit pelayanan itu akan memudar jika da seseorang yang bersifat guru dok!. Kehanncurang gereja diawali dengan munculnya orang-orang yang memaksakan kehendak. Memang, orang lain akan diam dalam perbuatan tapi bertindak dalam hati, lalu terjadilah perpecahan.

Dalam kehidupan perpolitikan di tanah batak pun khususnya Humbang Hasundutan sudah memasuki era baru yaitu munculnya guru dok dengan memborong semua partai untuk kepentingan dirinya sendiri. Satu-satunya alasan adalah supaya dia ingin menang sendiri. Egoisme politik dengan mengindahkan norma-norma dan moral demokrasi yang sudah ditanamkan oleh leluhur batak. Seseorang yang hanya karena takut kalah dalam pemilulah mampu melakukan itu. Siapa yang percaya bahwa partai-partai memberikan rekomendasi itu dengan cuma-cuma?.Arogansi ini tentu saja sangat melukai perasaan masyarakat. Kaum tua dan muda bersatu mengganjal keinginan kelompok tertentu yang memaksakan calon tunggal dalam pemilihan kepada daerah 2020. Hak-hak demokrasi yang seharusnya berdiri di tengah-tengah masyarakat harus tetap kokoh.

Umumnya masyarakat tak mempersoalkan siapapun yang menjadi bupati, tetapi harus dilakukan dengan proses demokrasi yang benar. Rakyatlah yang menentukan pemimpinya, bukan sekelompok paratai. Akan sangat mengerikan jika sudah terjadi perlawanan rakyat. Kekuatan satu bangsa seutuhnya bukan pada material/uang senjata, kepintaran, teknologi tetapi pada jiwa, spirit, roh bangsa itu sendiri.

Uang itu penting, tetapi bagi orang batak, membeli seseorang sama saja dengan mengatakan orang tersebut sudah mati. Hanya orang matilah yang bisa dibeli hak demokrasinya, sebab dia tak akan melawan lagi. Jadi, jangan coba-coba menjadi guru dok, melukai keharmonisan, melukai demokrasi dan melukai jiwa-jiwa dan spirit orang batak khususnya Humbang Hasundutan.

Lawan oligarki dengan memilih kolom/kotak kosong!

By admin