Inong

Byadmin

Jan 16, 2020

1967

Malam itu inong menyiapkan bekal perjalanan kami besok pagi. Beberapa potong singkong, sedikit nasi dan beberapa potong ikan asin yg dibakar lalu dimasukkan ke dalam hajut parindahanan. Hajut atau tas yg dirajut dari pohon bayon. Sudah seminggu ini saya merengek untuk ikut inong marhuta sada mengunjungi tulang di Muara. Tulang merantau ke sana dan menikahi boru Muara beberapa dekade silam. Ompung bao,-sebutan untuk ompung dari keluarga ibu–tinggal di BatuNagodang kecamatan Onan Ganjang persis di kaki Dolok Pinapan sebelah timur. Ompung seorang petani layaknya sebagian besar di daerah itu yg hidup dalam keprihatinan, kemiskinan jika tidak pantas di sebut kemelaratan. Masa awal kebangkitan bangsa dari keterpurukan akibat pergolakan politik. Aku yg masih anak-anak tidak paham situasi negara saat itu. Makan singkong setiap hari sudah sangat bersyukur sekali. Punya baju sepasang yang setiap saat menempel di badan sudah pun sudah sangat senang. Anak-anak lain pun begitu, sama saja.
Inongku boru Manullang adalah sosok pekerja keras yang tidak pernah kenal lelah dan mengeluh kepada keadaan. Inong tahu persis bahwa keadaan ini tidak terjadi pada keluarganya saja tetapi pada sebagian besar rakyat di negara ini yg baru saja lepas dari pergolakan politik, pemberontakan PKI. Sebagai anak paling besar dari tujuh bersaudara saya bertanggungjawab membantu inong menjaga atau marorot adik-adikku.  Usiaku yg belia sudah diberikan pekerjaan orang dewasa.

Bila hari pekan tiba, Inong mencoba peruntungan menjadi pemikul beras. Beras itu milik tauke. Inong memikulnya dari Pasar Temba Pakkat hingga ke Onan Ganjang bahkan Doloksanggul yg jaraknya puluhan kilometer. Beras segoni bertengger di kepala inong dan adikku yg masih bayi nyenyak di gendongan inong. Aku mengekor di belakang inong seraya memikul dua ubi besar. Langkah kecilku terseok mengikuti kelincahan kaki inong yg tak beralas nemapaki setiap jengkal di sore basah itu. Kubayangkan betapa nikmatnya ubi itu nanti setiba di rumah. Makan singkong sebanyaknya lalu ditutup makan nasi, itu urutanya. Siapa yg mampu melahap singkong paling banyak, maka jatah nasipun akan lebih banyak. Setelah saya dewasa, baru saya paham bahwa itu hanya akal bulus inong. Logika sederhanya bila sudah kenyang singkong apa mungkin masih mamou melahap banyak nasi?.

Hari-hari berjalan seindah itu.

“Inong, leleng do hita di Muara?,–Bu, apakah kita lama di Muara?”
“Olo. Saminggu, mangurupi tulangmu mambuat eme.–iya, membantu pamanmu memanen padi. Molo ikkon dohot do ho marjanji ma ho ikkon unang martambu molo mangan,–kalau kamu harus ikut, berjanjilah untuk tidak menambah nasi kala makan,” ujar inong dengan mimik serius, itu artinya tak perlu didebat.

Olo, jawabku singkat, yang penting ikut ke Muara.

Rumah tulang di Muara sangat asri. Indah dan sejuk memandang ke Danau Toba. Sebagai anak gunung aku tak pernah berani berenang di tao. Beberapa hari kami di rumah tulang. Acara makan adalah sesuatu yg sangat ku tunggu. Nasinya putih, panas dengan asap mengepul. Suasana seperti ini sangat jarang ku dapati di kampungku Batu Nagodang.

Sore itu nantulang menyiapkan makan malam dengan lauk mujahir natinombur. Aroma nasi semerbak menusuk hidung bergantian dengan aroma mujahir itu. Sekejap rasa lapar bagai tak makan 3 tahun mwnyergapku. Inong menyendokkan nasi itu kepiringku. Hanya porsi kecil. Aku menatap inong. Pandangan kami beradu. Mataku mengisyaratkan supaya inong mengayunkan sendok nasinya sekali lagi. Tatapan inong menyiaratkan cukup!.
Berikutnya, inong mengangkat seekor mujair natinombur itu, hatiku bersorak kegirangan. Rupanya inong hanya memberikan sepotong kecil bagian ekornya. Alamak, kejam sekali, kataku dalam hati.

Setiap hari kami makan nasi dan lauk ikan mujahir, rasanya seperti di surga. Satu satu yg ku sesali sekali gus menjadi pertanyaan besar dalam benakku adalah mengapa saya tak diijinkan martambu?. Setiap keinginan itu datang inong dengan cepat mencegahnya dengan tstapan matanya yg setajam pisau silet.
“Nga butong i ito, beremi, so pola gogo mangan i–beremu itu sudah kenyang, ito. Tak terlalu selera beremu itu makan” kata inong ketika tulang menawarkan nasi tambah untuk ku. Lidahku kelu dan tercekat untuk memotong ucapan inong. Hingga hari terakhir kami di rumah tulang, selalu seperti itu. Tetapi ketika tulang memberangkatkan kami pulang diadakan acara makan bersama.
Tulang menyendokkan makanan ke piringku hingga penuh. Dua kali tambah nasi dan dua kali pula ikan mujahir besar diletakkan tulang ke piringku. Inong diam seribu bahasa, walau sesekali ia menatapku tajam. Masa bodoh, persoalan belakangan, pikirku. Aku membayangkan cubitan inong akan mendarat di pahaku.

“Inong, mengapa inong selalu melarangku menambah nasi?” Tanyaku ketika kami sampai di rumah.
“Eh amang, ikkon pasomal on mu do mangan saotik, unang pasomal mangan martambu asa unang ginjang roham. Ikkon botoonmu do na male ai ido hangoluanta, unang haginjangkon sipanganon” kata inong menasehatiku.
Inong tak ingin saya menjadi sombong dan jumawa ketika ada makanan berlimpah dan tetap harus rendah hati. Hiduplah dengan sederhana, kata inong.

Ketika kami marhuta sada membantu tulang ku yang lain seperti di Sijarango Pakkat pun, inong tetap berpesan tak boleh menambah nasi ketika makan.
“Olo inong, alai molo nga naeng mulak hita, boi ma au martambu ateh” kataku bernegosiasi.

Didikan kesederhanaan dari inong lah yg selalu saya ingat hingga kini. Mungkin kalau bukan karena didikan keras inong, aku tak bisa menduduki jabatan eselon di kabupaten.

Selamat Natal dan Tahun Baru.
Cat. Note ini saya tulis berdasar kisah nyata

By admin