suratBuat anak-anakku tersayang,
Segala puja dan puji kita haturkan kehadirat Allah Bapa, Yesus Kristus karena penyertaanNya melalui Roh Kudus kita bisa menikmati berkat-berkatnya, kesehatan, makanan jasmani dan rohani. Kita melalui tahun-tahun dalam suka dan duka hanya karena anugerahNya saja.
Dua tahun berlalu, ketika kamu mengikuti acara seperti ini, dan dua tahun ini pula banyak perubahan pada dirimu. Kali ini kamu pergi lebih lama dari sisi mama. Dua hari serasa dua puluh tahun, ada yang hilang dari jiwaku, meskipun kalian sudah semakin mandiri namun mama tetap merasa was-was kalau-kalau kalian sakit, masuk angin, flu dan lain-lain. Ah…Lebay…itu fobia para orang tua kala anaknya jauh dari sisinya. Mama membiarkanmu pergi dengan harapan kamu semakin belajar lebih mandiri, bergaul dengan teman-temanmu, mematuhi arahan-arahan abang pembinamu terutama mempelajari firman Tuhan. Hal lainnya adalah supaya kamu belajar berbagi rasa dengan teman-temanmu sebab kamu penting buat mereka demikian sebaliknya.
Nak,
Aku memperhatikanmu kala mempersiapkan acara ini, sungguh bangga rasanya. Dari jauh mama melihatmu dengan seksama, ternyata kamu sudah menjadi anak gadis yang sebenarnya. Dulu mama yang mempersiapkan segala kebutuhanmu bila bepergian, sekarang kamu telah lakukan sendiri. Itu artinya kamu semakin bertanggungjawab pada dirimu sendiri. Adek-adekmu juga sudah doli-doli, dan mama baru menyadari itu loh. Pantas sekarang banyak family mulai membanding-bandingkan kita. Ya…h, gak bisa dibandingkan bukan?. Pasti kamu yang lebih cantik. Kamu masih muda, mama sudah tua. Kamu anak kota, mama orang kampung. Kamu semampai, mama semampai kesamping.
Lihatlah rambut mama. Beberapa helai sudah memutih. Di wajah mama ada garis keriput melintang dan bercak hitam penanda penuaan pada kulit. Dulu mama sering mentertawakan teman-teman yang usianya masih tergolong muda tapi sudah beruban. Mama pikir uban itu hanya disebabkan usia, ternyata beban pikiran juga bisa menyebabkan rambut putih ini. Sekarang mama menyadari kalau mama ternyata mentertawakan diri sendiri. Mama ingin ke salon mempercantik diri, menghitamkan rambut supaya kelihatan lebih muda, tapi apa artinya?. Toh mama sebentar lagi sudah mendekati setengah abad bukan?. Lebih baik mama mempercantik kalian, mempercantik imanmu dan mempercantik perilakumu dan lain-lain.
Ternyata, semua berlalu begitu cepat.
Dulu, kita berempat bisa semotor berangkat ke gereja. Sekarang?.
Mama tak pernah menyadari hari-hari berlalu begitu saja. Bahkan, tahun depan kamu akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Bagi mama dan papamu, apapun kami lakukan demi cita-citamu. Mataku terpejam bergantian, jantung berdenyut bergantian supaya bisa 24 jam mencari nafkah demi dirimu dan adek-adek mu pun kami rela. Biaya sekolah memang mahal, kamu pasti menyadari itu. Tapi papa dan mamamu takkan menyerah melakukan yang terbaik bagi kalian. Memeras keringat, bermandi peluh segalanya untuk kalian anak-anak kami. Seperti janji yang sudah papa dan mama ucapkan, kalian harus sekolah setinggi mungkin.
Sepulang retreat nanti, perhatikanlah papamu. Rabalah tangan kasarnya. Lihat keriput di wajahnya, nak. Perhatikan pundaknya yang tidak sekokoh dulu lagi. Ada wajah penuh keletihan di sana, keringat yang sudah membatu menyatu dengan kulitnya yang menua. Sesekali hitunglah uban papamu, kalau kamu bisa. Kamu masih ingat, ketika papamu masih mampu mengangkat kalian berdua, kamu di bahu kiri dan adekmu di bahu kanan?, sembari berlari kecil, kalian berdua tertawa lepas?. Kenangan yang tak terlupakan seumur hidup.
Fisiknya semakin menurun, entahlah, apa karena pengaruh pikiran atau sebab lain. Walau di depan kalian papamu tdk pernah mengeluh, tapi mama yakin papamu mengalami keletihan yang amat sangat. Hari masih gelap, papamu sudah berangkat, dan hari kembali gelap ketika papamu pulang. Papamu tak pernah mengeluhkan hujan, pekerjaan, macet, dan rintangan lainnya demi menghidupi keluarga kita.
Asal kamu tahu, kalau dulu papamu orang yang suka bergaya. Pakaian bersih dan penampilan rapih. Sekarang dia terlihat sederhana. Menggunakan baju yang sama berkali-kali pada setiap acara. Pernahkah kalian menyadari kenapa papamu bilang dia sangat menyukai sepatunya yang hitam itu?. Kalau tidak salah sudah tiga kali ganti telapak. Dia dengan bangga memperlihatkan cara merawat sepatu. Dengan bangga pula ia menunjukkan kalau merek sepatunya adalah merek sepatu terbaik di dunia, sepatu yang tahan bertahun-tahun. Sebenarnya, alasan utamanya adalah dia tidak mau membeli sepatu baru. Sering kepergok dia berlama-lama di toko sepatu mencoba beberapa pasang, namun selalu batal. Ah, hanya mencoba saja kok, katanya. Papamu sudah menabung untuk membeli sepatu baru idamanya. Rupiah-demi rupiah dikumpulkan, akhirnya harus batal bila ada keperluan sekolahmu yang mendadak. Semoga kamu menyadarinya.
Mama pernah bertengkar gara-gara saya belikan baju baru yang bagus dengan harga lumayan mahal. Mama menyadari kalau papamu tak pernah beli baju baru. Akhirnya papamu marah-marah, katanya buang-buang uang, sementara biaya kebutuhan kalian semakin meningkat. Ah, itulah papamu, hanya kelihatan saja dia keras, kaku, sementara hatinya sangat baik dan penuh perhatian.
Nak,
Bila kamu bilang mama ini lambat berpikir, gak nyambung kalau diajak bicara, itu memang benar.
Mama memang cerewet, itu juga benar. Sebenarnya mama hanya butuh teman bercerita, berkeluh kesah. Papamu memang ada. Tapi sedikit waktunya di rumah. Berangkat subuh, pulang malam. Tak tega rasanya kalau mama membebaninya cerita-cerita macam-macam. Keinginan hati, kamulah tempatku mencurahkan keluh kesah. Nyatanya, jauh dari harapan. Kamu bentak mama setiap mengajakmu berbicara.
Dalam hati ingin menangis, rindu akan dirimu ketika masih SD yang setiap pulang sekolah selalu menceritakan setiap hal baru yang kamu dapatkan. Mama bahkan rela menghentikan pekerjaan hanya untuk mendengar ceritamu. Rela menghentikan setiap kesukaan mama setiap kamu cemberut merasa mama cueki. Berjam-jam kamu bercerita tentang pelajaranmu, gurumu, teman~temanmu yang tidak mama kenal sama sekali, bahkan hingga saat ini, mama gak pernah protes. Mama selalu ada untukmu, bukan?. Masih ingat?.
Kini, kala mama mengajakmu bercerita jawabanmu sungguh tidak enak.
Mama, lebay
Mama, ngoceh mulu
Mama, aku capek, banyak pikiran di sekolah
Mama, bisa gak sih ngga ngerecokin pikiran ku
Mama, gak asyik banget dengar ceritanya, itu melulu-itu melulu.
Mama, mending nyibukin diri bekerja atau menonton daripada bercerita,
Mama, bikin aja facebook lalu tuliskan keluh kesah di status
Mama, apa kek?.
Padahal, kalau mama perhatikan, kamu bisa berjam-jam bercerita dengan teman-temanmu.
Suaramu meninggi hanya karena mama minta diajarin menggunakan HP. Baca buku manualnya ma!. Lemot amat sih otak mama?!. Pencetin aja semua, ntar lama-lama juga bisa. Yaaaaaah…mama terpaksa maklum akan keadaan ini. Mungkin zaman sudah berubah. Mama sebenarnya sudah lupa semua itu, entah kenapa bisa terlintas di pikiran mama. Mungkin karena kamu sekarang jauh ya.
Padahal, dulu, berhasil mengajarimu memencet remot saja sudah sangat menyenangkan. Menceritakan keberhasilanmu mengganti channel tipi sangat menyenangkan hati mama. Mama tak pernah bilang, pencetin aja, lama-lama juga pintar. Bahkan, satu tombol saja, kamu tanyakan seratus kalipun, mama jawab dengan penuh kesabaran.
Anak gadisku yang cantik,
Doli-doliku yang ganteng, kalianlah mutiara kami. Ini mama bacakan lagi surat papamu yang dulu.

Ada beberapa hal yang membuat papa sangat bahagia belakangan ini. Bahagia karena dirimu tentu saja. Walau tak kuungkapkan tapi dari lubuk hati yang paling dalam, papa sungguh bahagia. Pertama, minggu lalu kita melihatmu di deretan remaja-remaja gereja kita memuji Tuhan, melantunkan nyanyian koor. Tak ada yang bertanya, papa sengaja membisikan ke jemaat di sebelah papa. “Itu boruku”. Bila biasanya papa duduk di bangku paling belakang, maka ketika kalian anak remaja bernyanyi di gereja, papa sengaja duduk paling depan. Ingin melihatmu memuji Tuhan. Hati siapa yang tidak bangga melihat buah hatinya ikut ambil bagian dalam pelayanan. Papa juga ingin, tapi apa daya, ya…..begitulah, keterbatasan waktu, papa selalu pulang malam. Professi papa sebagai buruh pabrik sungguh melelahkan dan menyita waktu. Tetapi ini juga harus disyukuri, bukan? Inilah satu2nya jalan untuk menghidupi keluarga kita.
Hal kedua yang membuat papa bahagia adalah mendengar berita kelulusanmu. Bulan depan kamu akan memakai baju putih abu-abu. Anak papa sudah menjadi gadis yang cantik.
Hmmm….
Itu Kata papamu.
Kamu adalah boru kebanggaan papa. Manja atau gimana, mama gak tahu. Kadang mama kesal kalau kamu sudah dibelain papamu. Apapun yang kamu minta, pasti dikabulkannya selagi dia mampu. Mama seperti diduakan. Akhirnya mama berpikir kalau itu bentuk kasih sayang papamu yang tidak terbatas. Jangan kau sia-siakan kasih sayang papamu, boruku. Lihatlah papamu, dia kerja tidak melihat waktu, tidak gengsi, tidak takut sakit, letih demi menyekolahkan kamu dan adik-adikmu.
Sebelum mama melanjutkan surat papamu ini, ada satu hal yang menurut penilaian kami sama. Sifat melawanmu itu. Setiap perintah kami selalu kamu jawab dengan entar…entar..entar. Padahal kalau temanmu yang meminta, detik itu juga kamu kerjakan.
Ya, itu kebiasaan yang belum berubah selama ini. Ini pesan papamu dulu, mama bacakan lagi ya.
Nak, tak bisa dibohongi, kadang-kadang papa juga sedih melihat perubahan perilakumu belakangan ini. Suka melawan dan berbicara lebih keras daripada suara ibumu bahkan papa. Entah darimana kamu belajar seperti itu. Aku dan ibumu selalu mengajarimu perikaku yang santun, terlebih terhadap orang tua. Tetapi papa yakin itu karena perkembangan jiwamu.
Papa semakin menyadari bahwa akhir2 ini ada jarak diantara kita. Papa berulangkali merenung, instropeksi diri dan mencoba mengingat hal apa yang menyebabkan perubahan perilakumu. Lagi2 papa menyimpulkan sendiri kalau itu berhubungan dengan perkembangan jiwamu, masa remaja dengan segala polemiknya. Sejujurnya, papa ingin sekali memelukmu setiap pulang kerja. Papa ingin melakukan itu seperti ketika kamu masih berumur limatahunan. “Papa, aku bukan anak2 lagi, jangan lebay deh” ujarmu lalu menepiskan tanganku kala mengusap rambutmu.
Ya, kamu memang bukan anak2 lagi. Serperti kata papa, kamu telah tumbuh menjadi seorang gadis. Aku tak menyadari itu, kadang. Papa masih menganggap kamu seperti sepuluh tahun lalu. Papa memang lebay ya. Istilah lebaymu ini sengaja papa cari tahu dari teman teman papa. Tadinya papa mau memarahimu karena papa pikir itu ucapan kurang sopan. Rupanya itu bermakna berlebihan.
Banyak istilah kalian para ramaja. “Trus gue harus bilang wauw gitu?, ” katamu kala papa bilang sangat letih dan minta dibuatkan kopi. Papa hanya berharap ucapan yang menyejukkan hati. Tak usah memijit punggung papa seperti yang kamu lakukan ketika kamu berumur lima tahun, masih ingat?. Sini, pah, aku pijitin kepalanya biar tak pusing. Lalu tangan mungilmu mengucakucak kepala papa. Rasanya dunia ini seperti milik sendiri. Lalu kau duduk di pelukan papa, tak peduli bau rokok, bau keringat, bau oli. Itulah dirimu sepuluh tahun lalu.
Mendengar celotehanmu, mendengar ceritamu tentang ibumu yang menurutmu nakal mampu menyirnakan segala kesah dan merubah letih menjadi semangat. Singkatnya, saban melihatmu kala papa pulang kerja cukup menjadi penawar rasa letihku.
Kini sudah berubah.
Masih ingat ketika papa tanya ketika kamu pulang telat?, atau ketika kamu membicarakan sesuatu dengan teman2mu, berbisik2?. “Papa jangan kepo deh?”
Papa hanya mengelus dada. Apa lagi maksudnya ini. Nak, papa itu produk jaman dahulu. Jangan buat aya bingung dengan istilah istilahmu.
Papa bukan nya ingin selalu tahu apa yang kalian bicarakan. Dan bukan ingin mengekangmu dari pergaulan. Papa hanya kwatir. Papa tak ingin boru papa jatuh kedalam pergaulan bebas yang sekarang ini semakin menggila. Kalianlah harapanku, bisa sekolah semampu papa itu tugas kami. Jangan seperti Papamu ini yang hanya lulusan SMA.
Sebenarnya, kamu tahu alasanya kenapa kita larang main fb social media lainnya?, papa pikir itu tidak penting buat anak seusiamu. Itu pertama. Kedua adalah papa takut dengan pergaulanmu di FB membawa malapetaka. Papa baca di koran, papa lihat di tipi banyak anak remaja yang diculik, dinodai, dijual oleh seseorang yang bermula kenalan di fb. Pun papa harus menerima protesmu dengan menyebut papa yang otoriter bahkan kejam dan gaptek. Apapun itu, papa tak ingin sesuatu terjadi pada dirimu. Papa tidak tenang bekerja setiap ibumu bercerita kalau kamu pulang kesorean. Bahkan kemalaman.
Iya, intinya, sikapmu kepada kami orangtuamu harus diubah. Intonasi suaramau masih kerap lebih tinggi dibanding mama atau papa. Mimik wajahmu menunjukkan sikap berontak. Mungkin, seandainya kamu mau menampar mama dan papamu, akan kamu lakukan. Nak, kamu adalah cermin buat adek-adekmu. Bila kamu berperilaku baik, maka adek-adekmu mama jamin akan berbuat hal yang sama.
Oh ya, soal adik-adikmu, papamu sudah mengingatkanmu dua tahun lalu. Tak ada yang sia-sia berbuat sesuatu yang baik bagi adek-adekmu. Karena itu kewajibanmu, bukan beban bagimu. Kamu wajib memberikan mereka teladan, mengurusnya dan memberikan mereka kasih sayang seorang kakak. Bila sekarang saja kalian sudah tidak menyayangi apalagi kalau sudah dewasa nanti?.
Mama lanjutkan surat papamu ini, karena ini penting, demi kebaikanmu.
Kadang, mama harus menahan kelopak mata ini supaya tidak berurai air mata setiap mendengar jawabanmu yang ketus. Mama hanya memintamu membersihkan rumah, mencuci baju, jawabanmu aku bukan pembantu.
Mama memintamu mengurusi adikmu, jawabanmu aku bukan babysitter
Sebenarnya tak muluk2 permintaan mama dan papamu, sangat sederhana. Menjadi seorang perempuan batak yang santun dalam segala hal dan menghargai kehidupan. Berbakti kepada orangtua dan menyenangkan hatinya dengan prestasi, membantu pekerjaan rumah, itu saja.
Tentu kamu menonton televisi beberapa minggu lalu tentang seorang anak penarik becak diwisuda di sebuah perguruan tinggi negeri, yang sukses dengan prestai cum laude-nya, bukan?. Lihatlah wajah sang papa. Betapa bahagianya dan penuh suka cita. Apakah sang ayah akan menghitung rupiah demi rupiah yang telah dikeluarkan ketika anak-anaknya sekolah?. Tidak!. Semua terbayar dengan prestasi sang anak. Jerih payah orang tua cukup dibayar dengan kepatuhan si anak kepada orang tua dan prestasi dalam kehidupan ini.
Nak, kami para orang tua tidak pernah menuntut balas dengan imbalan rupiah disetiap pengorbanan yang kami berikan dalam membesarkan kamu. Kelak kamu akan tahu bagaimana perasaan seorang perempuan yang sedang mengandung. Membawa bayi dalam rahimnya, dan menjaganya sebaik mungkin melebihi menjaga nyawanya sendiri. Coba nak, bayangkan ketika mama sedang mengandungmu, berjalan susah, duduk sudah, tidurpun susah.
Masih untung tidak seperti beberapa ibu yang terpaksa harus berdiam ditempat tidur selama dua atau tiga bulan hanya karena sesuatu terjadi pada sang bayi. Bayinya mengalami pertumbuhan abnormal dalam janin sehingga si ibu harus lebih peduli akan kandunganya. Bayangkan jika bayi itu adalah dirimu. Apa yang harus kamu berikan kepada ibumu yang berjuang melawan maut hanya demi dirimu.
Kisah yang pernah dibagikan papamu adalah nyata. Seorang ibu akhirnya meninggal kala melahirkan. Si ibu diberikan pilihan, menggugurkan kandungannya atau memilih bertahan dengan resiko kematian. Si ibu memilih bertahan. Ia begitu mencintai anak dalam kandunganya. Pilihan pun diambil. Apapun resikonya, anaknya tidak akan digugurkan. Bulan ke tujuh, terjadi pendarahan hebat. Lalu si ibu memaksa tim medis mengoperasinya. Ya, bayinya selamat tetapi dirinya tidak!. Itulah pengorbanan seorang ibu yang rela memberikan nyawanya pada anaknya.
Bayangkan lagi jika kamu adalah sang bayi. Dengan apa kamu membalasnya?. Rupiah?, nilai sekolah?. Apa?. Tak ada yang bisa menjawabnya. Biarlah Tuhan yang mengajarimu memberikan jawaban pada mama.
Kenyataanya, banyak anak jaman sekarang berani membentak ibu yang melahirkanya. Memperlakukanya bak babu. Melawan bahkan sampai hati membuatnya menangis, dengan ucapanya, dengan perilakunya. Lebih sadis adalah merasa malu kepada teman2nya ketika si ibu yang berpenampilan sederhana mengantarnya ke sekolah.
Ketahuilah nak, satu-satuhnya di dunia ini yang diberikan kesempatan hanya sekali adalah punya orang tua. Tak ada gunanya menyesal kalau orang tuamu sudah pergi selamanya, hanya menyisakan air mata penyesalan yang tiada berarti. Histeria hingga ke langit tujuh juga tidak berarti lagi. Penyesalan tinggal penyesalan. Kehidupan tidak akan pernah kembali. Banyak orang yang kurang beruntung tidak diberikan kesempatan memiliki orang tua, pun mereka sangat menginginkanya. Kebalikanya adalah banyak orang mensiasiakan kesempatan itu, menjadi duri dalam kehidupan orang tua.
Nak, dengarlah cerita ini. Fiksi atau tidak, ambil intinya saja.
Tersebutlah sebuah kisah pilu perempuan tuna netra sebelah. Selain cacat, ia juga seorang janda yang hidup di sebuah apartemen murahan dan kumuh di pinggiran kota.
Sepuluh tahun sudah ia menjanda, hidup sebatangkara jauh dari anak tunggalnya yang memilih tinggal di belahan kota sana. Tidak jelas alasanya kenapa sang anak tega membiarkan ibunya hidup menyendiri. Kadang ia mengatakan, kesibukanya mengurusi bisnis atau kesibukan perjalanan keluar negri sehingga ia harus meninggalkan ibunya sendirian. Sang anak selalu memenuhi segala kebutuhan ibu secara materi, dan si anak pulalah yang meminta supaya sang ibu tidak bekerja lagi. Tinggal di rumah saja, bahkan jangan bersosial lagi, itu perintah anak semata wayangnya.
Si anak adalah seorang lelaki yang tampan, memiliki karir bagus dan berpenghasilan besar di sebuah perusahaan bonafit. Dan punya reputasi bagus di bidang usaha yang digelutinya.
Suatu ketika ia menjalani hubungan serius dengan seorang gadis, dan tentu saja bukan gadis sembarangan, melainkan putri seorang tokoh penting di negeri itu. Sejak ia perkenalan pertama, ia telah membohongi sang gadis tentang keluarganya khususnya ibunya yang seorang perempuan cacat. Ia mengaku kalau ibu kandungnya sudah meninggal dan ia hanya dibesarkan oleh bibinya.
Suatu hari tanpa sengaja ia bertemu ibunya disebuah mall besar ketika menemani teman wanitanya sedang berbelanja perhiasan. Sang anak grogi. Ia buang muka. Pastinya malu memperkenalkan kalau perempuan bermata satu itu sebenarnya adalah ibu kandungnya. Sebaliknya, sang ibu sangat senang bertemu dengan anakya ditengah keramaian itu. Siapa yang tidak bangga memiliki anak segagah itu. Sang ibu merlari kecil mendekatinya, sementara si anak pergi menjauh menghindari pertemuan itu. Hingga akhirnya sang ibu harus menerima kenyataan kalau anak nya menghindar.
Singkat cerita, suatu hari si anak mengunjungi ibunya. Tanpa sadar terucap kalimat kalau dia malu memiliki ibu yang cacat. Sang ibu hanya terdiam. Kecewa. Perih bagai diiris pisau. Senyum pahit disertai ucapan yang tidak terdengar oleh si anak mengatakan, aku, ibumu sangat bahagia dan senang bila kamu memang bahagia dengan keadaan ini.
Lalu sang anak pun meninggalkan rumah itu, dengar berbagai macam perasaan, jengkel, kesal dan marah tentunya, merasa dipermalukan seandainya terjadi pertemuaan di mall itu. Betapa malunya dia punya seorang ibu yang cacat?.
Dua bulan kemudian, ia pun menyadari kalau perbuatan nya itu salah. Tunanganya pun mendukung dia untuk segera mengunjungi sang ibu dan meminta maaf. Ia dan tunanganya itu pun membelikan bunga, hadiah, makanan, pakaian yang Indah, bermaksud untuk menyenangkan hati sang ibu.Selain itu, ia berencana meminta restu untuk menikahi tunanganya itu.
Rumah itu telah kosong.
Debu, sampah, pengap, aroma menusuk menghinggapi hidung pasangan serasi itu. Mereka menemukan sebuah amplop di meja kusam itu. Didalam nya sepucuk surat dan selembar foto keluarga. Tulisan dalam surat itu memudar seperti kejatuhan air. Ya, itu air mata sang ibu. “Nak, inilah fotomu waktu kamu bayi. Aku memang cacat. Tetapi lihatlah aku di foto ini. Apakah aku buta?. Tidak. Ketahuilah lah, kalau kamu dilahirkan tidak sempurna, kamu hanya memiliki satu mata yang sehat. Ketika usiamu menginjak empat tahun, aku memberikan mata kananku kepadamu, supaya kamu bisa melihat dunia ini dengan sempurna. Nak, kamu telah melihat dunia yang Indah ini dengn mata itu, bukan?. Peliharalah mata itu. Aku, ibumu, ikut merasakan kebahagiaanmu.”
Sang anak pun meraung, merobek bajunya yang indah, berurai air mata. Histeris memukul meja, dinding, melempar apa saja yang ada di dekatnya. Aku telah berdosa kepada ibu. Maafkanlah saya ibu. Maafkan saya ibu… maafkan saya ibu…Kalimat itu berulang ulang diteriakkan dengan air mata penyesalan. Apa daya, sang ibu sudah pergi entah kemana dan jadi apa.
Nak, itulah kisah pengorbanan seorang ibu pada anaknya, yang rela memberikan apa saja yang ada pada dirinya demi kebahagiaan anak. Demikian juga mamamu ini, apapun kami lakukan asal kalian anak-anak kami bisa bertumbuh dengan baik dan memiliki masa depan yang cerah. Tak usah memikirkan balasan. Itu semua kami lakukan karena cinta kami yang sangat besar bagi kalian anak-anakku.
Kau harus bersyukur dengan keadaan kita, yang sebetulnya tidak berkecukupan. Yang harus kau syukuri adalah kamu masih bisa sekolah, masih bisa makan walau makanan sederhana. Bangunlah kepekaan sosialmu sebab masih banyak anak anak yang kurang beruntung dibanding dirimu. Nak, di luarsana masih banyak anak yang tempat berteduh pun tak ada apalagi makanan.
Kamu sudah lepas sidi, artinya secara iman kamu sudah dewasa. Kamu dituntut untuk merubah sikap dari sifat anak-anak menjadi dewasa, dalam berpikir, berbicara, berpakaian, dsb. Aku, mamau terutama papamu, yang sangat membanggakanmu, ingin melihat perubahan yang nyata sepulang kamu dari retreat nanti. Sebab aku yakin, salah satu tujuan retreat itu adalah merubah sikap yang kurang baik menjadi lebih baik. Berkumpul bersama teman-temanmu tiga hari dua malam, mama yakin itu adalah langkah awal membangun kemandirian mu bukan?.
Berubah lah Nak, semakin dewasalah Boru, tinggalkan masa kanak-kanakmu dan menjadi anak mama yang membanggakan. Aku, papamu, mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini.
Mama ingin pelukan hangatmu ketika sampai di rumah nanti.
Mamamu.

By admin