Bapa!, Telepon dari kampung, dari mamak!, teriak namboru. Namboru selalu memanggilku bapa. Namboru seorang janda berusia lanjut. Walau cerewet saya menghormatinya. Parpadanan antara Lumban Gaol dengan Situmeang membuatku semakin menghormatinya. Saya rela dan senang saja saja dicerewetin setiap hari bila saya lupa sarapan, pulang malam, atau tidur larut. Namboru juga seorang yang baik hati, beliau sering membuatkan susu panas bila dilihatnya saya masih sibuk dengan lembaran-lembaran kertas skripsi itu di kamarku. Eh, bapa, ini susu panas buatmu, biar gak masuk angin. Aku mencium pipinya. Kurasakan kasih yang tulus dari namboru kepdaku.

Aku segera menghentikan tarian tanganku di tuts-tuts keyboard kusam itu. Bergegas meraih gagang telepon itu dari tangan namboru yang masih ngoceh ketika gagang tetelpon itu berpindah tangan. “Cepatlah, mahal biaya telepon dari kampung”, aku memberi syarat, lalu namboru itu meninggalkanku di pojokan ruang tengah itu. Beberapa pertanyaan berkecamuk dalam kepalaku. Tidak biasanya omak menelepon. Kalau pun ada sesuatu yang penting biasanya amang dan inong hanya berkirim surat.
“Marahua ho ito” inong selalu memanggilku dengan sebutan ito.
“Pasidung skripsi omak, di kamar—sedang menyelesaikan skirpsi,Omak”
“Oh, sehat do ho amang?, unang pabotari hu modom, jagaonmu do kesehatan—Sehat kau amang?, jangan terlalu larut begadang, jaga kesehatanmu”
“Olo omak, asa tor hatop sae na kuliah on” kataku. Aku memang sudah menekatkan harus selesai di tahun ini bagaimana pun caranya.
“Apala aha omak, pola martelepon ho?”—ada apa inong, sampai menelepon?”
“Na masihol do amang—rindu saja, amang”
“Heheheh. Imadah. Iba pe nunga masihol, hape tolu minggu na salpu pe mulak sian huta—saya juga sudah rindu, pun baru tiga minggu dari kampung”,
“Songoni do namarianakkon—begitulah perasaan pada anak” kata inong. Jujurnya saya masih bertanya dalam hati, apa yang ada dalam pikiran inong hingga harus menelepon saya.
“Alai sitoho ma jo omak, na adong do na ringkot asa pola martelepon?—Mak, apa ada yang penting sekali sehingga harus menelepon?”, aku tahu biaya komunikasi telepon sungguh mahal, belum lagi Omak harus ke pasar Pakkat hanya untuk ini.
“Ai nungnga boha hatam tu paribanmu si Mariani?—sampai dimana hubunganmu dengan paribanmu si Mariani?”.

Satu pertanya yang tidak masuk dalam daftar apa yang sudah ku susun di kepala membuatku hampir meloncat.


“Pakkat, Tulang” kataku seraya menyerahkan lemaran rupiah yang sudah kupersiapkan.
“Di pudi nama Lae, duduknya paling belakang, Lae”
“Dang pala bohai, molo i nama na adong—tak apa kalau itu yang tersisa”. Sampri, satu dari sekian angkutan antar kota yang menyinggahi Pakkat. Rutenya yang pendek membuatnya menjadi pilihan utama bagi kami parPakkat. Bahkan kala kuliah dulu, perusahaan angkutan ini menjadi favorit bagi kami, selain murah juga kualitas pelayananya yang bagus. Bahkan bisa berhutang lebih dulu atau bayar di Pakkat. Aku melirik jam tanganku. Masih ada waktu satu jam lebih menunjukkan pukul lima sore. Ah, masih lama gumanku.
Sore itu suasana loket sangat penuh. Lumrah di penghujung tahun seperti ini ribuan orang pulang kampung dengan berbagai merek angkutan kota. Mungkin aku memilih waktu yang tidak tepat sehingga harus mengalami kesembrawutan loket ini. Mungkin pagi hari lebih sepi. Atau mungkin malam hari dan kemungkinan-kemungkinan yang lain yang manari-nari di kepalaku. Aku melihat perbedaan yang sangat mencolok bila kubandingkan beberapa tahun ke belakang ketika masih kuliah di kota ini.

Satu hal yang membuatku berpikir ulang duduk di bangku belakang adalah bila ada penumpang yang merokok. Jujur, sebagai penumpang tidak perokok, asap itu membuatku mual. Ah, siksaan akan segera dimulai, bathinku ketika kondektur lewat pengeras suaranya memanggil penumpang tujaun Pakkat. Aku dengan sigap melompat ke kursi paling belakang sesuai nomor yang tertera di tiketku. Beberapa penumpang menyusul di belakangku. Headshet sengaja kupasang ancar-ancar bila mobil ini tidak ada hiburan. Betapa membosankan enam sampai tujuh jam dalam mobil melintasi hutan, mengitari pinggiran Danau Toba di daerah barat.
“Hei”
“Hei” aku terkejut mendengar sapaan setengah teriakan itu.
“Namulak do ho kale?”
“Ho doi, Mariani?” aku balik bertanya tanpa menjawab pertanyaanku
“Olo kale”
“Tamba bagagmu kale—kamu terlihat lebih cantik”
“Unang mangalea ho—jangan menghina dong”
“Situtu do kale—Sebenarnya begitu” kataku
“Hira na diboto parmotor on do dang adong donganhu bah—sepertinya sampri ini tahu kalau saya tidak akan sendirian”
Mariani, paribanku satu sekolah, satu kelas di SMA. Seorang yang kukenal pendiam kala itu, seorang yang hitam manis dengan senyum setengah lesung pipi. Gila. Semua bisa berubah. Setelah di kota, dia semakin cantik, bathinku. Aku teringat masa-masa SMA, dulu. Mariani seorang yang tidak banyak bicara. Dulu sering saya menggodanya, menjahilinya. Biasanya dia marah lalu berteriak melengking marah memanggil nama panggilan ibuku. Unang bijal ho dah, hupaboa tu namboru annon—jangan nakal ya, kulaporin ke namboru—katanya. Dulu ia sering melintas di depan rumahku kala ke sawah di Siappis. Bahkan, dulu sering bertemu di gereja. Hanya begitu saja. Saya merasa yang duduk di sampingku bukanlah Mariani yang saya kenal dulu. Lima tahun lalu, seingatku, saya mengujunginya di asramanya tempatnya menyelesaikan kuliah di akademi keperawatatn. Aura kecantikanya sungguh berbeda kini. Seorang gadis yang dewasa dan bijaksana terpancar dari wajahnya.

Aku tersenyum sendiri.
“Eh, dung mangaranto ho tu Jakarta gabe adong gilam.—semenjak merantau ke Jakarta kamu jadi gila?”
“Kok gila?”
“Iya, kenapa senyum sendiri”
“Gak boleh ya, ya sudah saya diam saja”
“Gak harus diam juga. Berceritalah”
“Apa yang harus saya ceritakan”
“Banyaklah”
“Nunga adong halletmu, kale” ujarku mengalihkan. Kale itu biasa dipakai parpakkat penanda sapaan keakraban.
“Nunga, godang”
“Wajarlah” ujarku, masih tersenyum
Aku semakin tersenyum sebaliknya dia semakin kecut. “Benar-benar kau sudah gila” ujarnya kesal. Jam demi jam berlalu. Kami sudah keabisan cerita. Beberapa penumpang sudah lelap. Sesekali siulan siulan sang supir terdengar sayub dibawa angin. Kadang ditimpali oleh batuk penumpang di kursi depan. Ku lihat Mariani sudah pulas dari tadi. Sesekali kepalanya jatuh di pundakku dan dia cepat terjaga membetulkan posisi duduknya. “Papodom ma di abarakki” kataku tseraya tersenyum. “Tabo ma ho, parbada” sergahnya. Dari dulu aku selalu dituding parbada.
Diantara sadar atau mimpi, aku mendengar teriakan supir pada orang-orang yang bergerombol diluar sana. Beberapa dari mereka mengunakan payung dan mantel plastik seadanya. Tak kurang beberapa anak-anak menggunakan pelepah pisang mengerumuni Sampri. “Longsor, dang boi lewat-Longsor, tidak bisa lewat” teriak mereka mengimbangi suara mesin.
“Didia?-dimana?”
“Opat kilo sian on—empat kilometer dari sini”
“Boi do mamutar—bisa memutar disana?”
“Boi-Bisa”
Penumpang mulai gelisah. Beberapa bayi menangis sementara gerimis semakin deras. “Sega dalan, matolbak, dang boi hita lewat—Jalanan longsor, kita tidak bisa lewat”
“Dimana?”
“sekilometer sebelum Jagapayung”

Ayah pasti menungguku disana, di Jagapayung, dan tidak mungkin saya menginap di Arbaan ini. Kalau pun harus berjalan kaki beberapa kilo meter tidak jadi soal. Aku melirik Mariani, seolah meminta pendapatnya. “Jonok nama, tadalani—sudah dekat, kita jalan saja” katanya
Kuihat ia tertatih di jalanan berlumpur sebetis itu. “Saya bawakan tasmu” kataku, tulus. “Nagodang hatam, aku masih bisa bawa sergahnya.
“Pakai sweter ku, kamu nanti sakit”
“Eh Parbada”
“Ya ampun, dibilangin malah mengajak berantem”
“Kau bagaimana?”
“Aku tak gampang sakit” kataku seraya menanggalkan sweter yang saya pakai.
“Hupartujung-tujung ma ateh, unang pola hupakke—penutup kepala saja”
“Terserah, yang penting kamu gak kehujanan, dan tidak sakit”
“Tumben kau baik, pariban”
“Tumben kau panggil aku pariban, biasanya kau panggil aku parbada”
“Apa perlu saya gandeng tanganmu, toh tak ada yang melihat bukan?”
“Unang kesempatan ho — jangan kesempatan, ya”
“Eh… jalan licin begini, kalau kau jatuh bagaimana?, nanti saya disalahin nantulang”
“Na rarat ho”
“Apa perlu saya gendong sekalian”
Cubitannya mendarat di pinggangku.
“Berkah tanah longsor” kataku
“Aha nimmu, kesempatan ho ateh, Parbada”
“Nah, kan. Tadi pariban, sekarang sudah parbada lagi”
“Kurang panjang jalanan longsor ini, supaya bisa bisa lebih lama berduaan”
“Betul kau ini parbada. Eh, swetermu sudah basah, kotor juga”
“Dicuci saja”
Aku mengikuti langkahnya yang tertatih, sesekali aku menggodanya dengan menakutinya. Kilat menerangi aspal yang licin menghitam. Ternyata, walau jalanan menurun, tiga kilometer sedikit menguras tenaga juga.
“Hira na marhallet hita ateh-kita seperti orang pacaran, ya” kataku
“Unang rarat ho” sergahnya.

Penghujung tahun, biasanya hujan. Hujan menyebabkan beberapa titik longsor di jalan lintas Pakkat Doloksanggul yang kebanyakan tanah liat berpasir sehingga mudah tergerus air dan kemudian longsor. Bila sudah seperti ini, berhari bahkan berminggu, Pakkat akan terisolasi. Syukur-syukur jalan Pakkat Barus tidak longsor. Bila longsor di sana terjadi juga, maka Pakkat menjadi kota mati, terisolir dari segala penjuru. Selain BBM akan langka, komoditi tidak terangkut bahkan bahan pokok pun akan membubung. Keluhan tanah longsor sudah kerab singgah di telinga pemerintah daerah, tetapi keluhan itu seolah angin yang berlalu begitu saja, seperti semilir desah Sampuran Pollung yang timbul tenggelam dibawa angin.

——000——
Aku mematung sejenak mendengar perkataan inong. Seketika itu berbagai pertanyaan muncul di kepalaku. Gosip dari mana?. Siapa yang menebar?. Ada apa?. Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak bisa kujawab. Tak ada angin, hujan, ada pertanyaan seperti itu. Dan yang paling mengherankan adalah, omak harus mengorbankan waktu, uang, pikiran hanya untuk mengajukan pertanyaan itu.
“Ai boasa disukkun omak songoni–Omak kok bertatnya seperti itu?”
“Imadah amang, disukuni dongan i au diparsikolaan jala dang holan i, piga-piga dongan pe manungkuni, tentunya saya harus menanyakan langsung padamu karena beberapa teman menanyakan itu juga”
“Ah, omak on. Somal do namarpariban akrab, dari SMA kami sudah akrab, tak ada yang spesial, tidak ada yang serius”
“I do nian amang, ai hubereng burju do pariban mi—aku melihat, paribanmu itu baik”
“Ido omak, naburju doi, bagag muse”
“Alai diboan ho do tu jabu”
“Dang boi huroa boanon—apa tidak bisa aku membawa pariban ke rumah?”
“Boi do amang, alai au pe songgot do tiki i”
Aku selalu berprinsip jika menjalani hubungan dengan seseorang maka orang dekat atau keluarga kita harus tahu. Serius atau tidak, tak salah menunjukkan hubungan kepada orang tua.
Itu bertanggung jawab.

—-0000—-

Gerimis semakin deras. Bajuku sudah kuyup. Kilatan cahaya itu membuatku bisa melihat nya menggigil kedinginan. Tanganya mendekap gulungan lengan sweterku yang menjuntai. Kami tidak memperdulikan lumpur-lumpur yang memberatkan langkah kami. Jujur, aku lebih mengkhawatirkan tebing-tebing yang menjulang di kanan kami. Bisa saja tebing ini longsor dan menyeret kami, atau bisa saja jalan ini longsor ke jurang itu atau bisa saja pohon yang menjuntai ke jalanan itu tumbang menimpa kami. Pikiran negatif itu semakin menyerang seiring semakin derasnya curahan hujan.

Seberkas cahaya temaran yang meliuk di depan sana melegakan hatiku. Pondok penjaga kebun didekat perkampungan. Akh, akhirnya sampai juga di Jagapayung, kataku dalam hati. Semakin lama, titik-titik cahaya semakin banyak. Listrik sudah padam. Cahaya itu dari lampu-lampu teplok yang dipajang di depan rumah. Beberapa penghuni rumah meneriaki kami, meminta untuk berteduh. Aku hanya membalas teriakan mereka “mamolus ma hami, namboru”. Suasana akrab –yang menurutku basa-basi saja– ini masih ada di kampung ku. Aku mengingatkan kembali kenangan kala SMA, bersama kawan-kawan sering mengunjungi desa ini.

“Eh, parbada”
“Ya”
“Marboras tarutung ateh—durian sedang musim berbuah” Mariani mengarahkan telunjuknya ke beberapa warung yang memajang buah-buah durian.
“Iya, durian kami di belakang rumah juga sedang berbuah”
“Boleh lah dibagi”
“Boleh, kalau kau mau. Apa sih yang tidak, buat seorang pariban ku yang cantik”
“Maos!, parbada!”
“Aku menjemputmu besok sepulang gereja ya, kita makan duruian di rumahku”
“Olo, alai ikkon adong tarutung i dah. Molo soadong, ho do huboddut”

Astaga, sekarang setelah perjuangan melintasi jalanan berlumpur yang gelap selesai, sang pariban, Mariani kembali berbicara becus. Naso ho do na makkitiri nakkinon, digolap-golapan, kumat jabirmu– kayaknya bukan dirimu yang gemetaran di jalanan gelap tadi, sekarang kumat jabirmu” kataku sekenanya.

Aku hanya melambaikan tangan ketika kami berpisah di Jagapayung. Among sudah menungguku. Pelukan hangatnya menyirnakan segala peluh dan rasa capai yang kumiliki. Aku pun memeluk among sesaat lamanya.

—- ii—-
Detik demi detik berlalu.
Aku mengiring pembicaraan omak ke hal yang lain. Skripsiku, pekerjaanku dan rencanaku bepergian ke negeri seberang dalam waktu dekat. “Mago sandiri do akka baritai omak” kataku
“Imadah, ito” jawab inong pendek.
“Nunga habis hepeng mi martelepon omak?” kataku mengalihkan pembicaraan.
“Ala na ringkot i do di hami akka natoras sisngonon, ito”
“Huantusi ma i omak”
“Tabo ni namarpariban ateh”
“Olo Omak”
Aku tersenyum sendiri mengingat kenangan itu. Aku masih merasakan cengkraman Mariani kala lumpur itu menahan langkah kakinya, kala sepatunya copot dan kala kilat itu berkelebat ada ketakutan terpancar di wajahnya.

By admin